Hubungi Kami Di (021) 5689-698

Home » Artikel » Penyakit Tidak Menular ( PTM )

Penyakit Tidak Menular ( PTM )

Penyakit tidak menular hadir sebagai pembunuh utama sejak beberapa dekade yang lalu. Penyakit degeneratif yang disebabkan oleh gaya hidup yang tidak sehat, kualitas lingkungan yang buruk, dan kondisi psikologis yang diimpit stres atau depresi berkepanjangan ini telah menjadi penyebab kematian tertinggi di seluruh dunia. Dan, penderita penyakit ini serta angka kematian yang ditimbulkan oleh penyakit tidak menular diprediksi akan terus meningkat dari tahun ke tahun.

Sungguh, fakta yang mengenaskan. Hal ini terjadi karena selain menimbulkan penderitaan tak tertanggungkan dari orang-orang yang hidup dengan penyakit tidak menular (PTM) dan keluarganya, uang dalam jumlah besar yang harus dikeluarkan dalam rangka membiayai ikhtiar penyembuhan, penyakit ini juga berdampak sangat signifikan terhadap kualitas sebuah bangsa. Penyakit tidak menular menyerang orang-orang dari semua umur, bagian terbesarnya adalah mereka yang berada dalam usia produktif. Dapat dibayangkan beban berat yang harus ditanggung suatu negara ketika banyak penduduk usia produktifnya sakit dan meninggal. Berbagai sektor kehidupan bernegara, seperti ekonomi, pengembangan ilmu pengetahuan dan sains, sosial, atau olahraga, jelas akan terpengaruh dan kualitasnya merosot. Itulah sebabnya, sudah saatnya bagi semua pihak untuk mewaspadai penyakit ini.

Diabetes Melitus (DM) merupakan salah satu jenis penyakit tidak menular yang menjadi momok bagi semua orang. Derita yang dihadirkan penyakit ini sungguh luar biasa. Tak hanya rasa sakit, tetapi diabetes juga mampu meluluhlantakkan kepercayaan diri penderitanya. Betapa tidak, luka yang tampak “mengerikan” dapat timbul akibat penyakit ini, kadang disertai dengan bau busuk. Tidak jarang, luka ini harus berakhir dengan tindakan amputasi. Merelakan anggota tubuh untuk hilang, lalu hidup sebagai manusia tidak sempurna pastilah akan menjadi mimpi buruk bagi siapa saja.

Di sisi lain, referensi mengenai diagnosis dan perawatan penyakit-penyakit yang ditemukan pada kaki (luka diabetik) agak jarang beredar.Umumnya, uraian diagnosis dan perawatan penyakit kulit di kaki menjadi satu dengan penyakit kulit bagian tubuh lainnya. Padahal, kehadiran referensi semacam ini sangatlah diperlukan oleh berbagai pihak, mulai dari tenaga medis, pasien dan keluarganya, hingga masyarakat umum.

Sekilas Kondisi Diabetes di Indonesia.

DM merupakan salah satu di antara beberapa penyakit tidak menular yang menjadi penyebab kematian tertinggi, baik di Indonesia maupun di dunia. Jumlah penderita penyakit ini pun senantiasa meningkat dari tahun ke tahun

DM merupakan salah satu jenis penyakit pembunuh yang menjadi momok bagi semua orang. Global status report on NCD World Health Organization tahun 2010 melaporkan bahwa 60% kematian semua umur di dunia disebabkan PTM dan DM menduduki peringkat keenam PTM yang menjadi penyebab kematian.

International Diabetes Federation (IDF) mengungkapkan bahwaangka kematian akibat diabetes mencapai 5,1 juta per tahun. Angka ini setara dengan satu orang meninggal setiap enam detik akibat penyakit diabetes.

Di Indonesia, berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007, diabetes melitus adalah penyebab kematian tertinggi nomor empat di Indonesia setelah stroke, hipertensi, dan cedera. Angka kematian akibat diabetes juga terus meningkat. Menurut data Kementerian Kesehatan, angka kematian akibat diabetes pada tahun 2014 meningkat 2,1% dibandingkan tahun 2008.

Saat ini, peningkatan jumlah pengidap DM cukup tinggi. Berdasarkan Data Kementerian Kesehatan, sedikitnya ada 13 juta penduduk Indonesia menderita DM. 5% di antaranya atau sekitar 650 ribu adalah anak-anak. Anak-anak ini umumnya mengidap DM tipe 2. Secara nasional, kenaikan jumlah penderita penyakit ini pada usia dini cukup tinggi. Saat ini angka kematian diabetes juga cukup tinggi.

Di akar rumput Indonesia, diabetes sudah dikenal secara luas. Oleh karena itu, program pencegahan diabetes sudah seharusnya mengikutsertakan seluruh lapisan masyarakat sebagai respons dari epidemi dan pandemi abad 20-21. ptm

Di kalangan akar rumput, beredar informasi sebagai berikut (dikutip dari etnis Betawi):

“Sakit gula adalah sakit turunan dan nggak ade ampun; ada dua jenis sakit gula, yakni gula basah dan gula kering.

Gula basah sangat jahat, orangnye biasanye gemuk, serta matinya cepat, bersamaan dengan borok gangrene di kaki yang nggak dapat sembuh, hitam, dan bau busuk. Bila busuk, orangnya cepat kurus, gula darahnya di atas 300.

Gula kering lebih ringan, orangnya kurus dan makannya nggak ketulungan, orangnya cepat marah, matinya cepat dan bukan karena borok gangrene, tetapi karena stroke, mati mendadak pagi atau malam.

Yang orang takutin adalah: stroke, cuci darah, dan jantungan. Yang kita nggak tahan adalah mahalnya, dan hampir semua orang tahu bahwa operasi boroknya nggak bakalan sembuh.

Sekarang ini, bile borok, mendingan nyerah aje, tunggu di rumah, obatin herbal (brotowali) dan kecekin daun kaki kuda, kaki kuda di kota sulit.

Tukang obat herbal dan obat luar negeri udah dikenal di kampung-kampung, ada orang yang bawain, hasilnya sama saja, kagak bisa sembuh, mending pasrah aja, dah. Boleh percaya boleh tidak.”

Inilah yang beredar di kalangan urban di kampung-kampung Jakarta. Kalangan menengah ke atas keadaannya tidak jauh berbeda. Di kalangan intelektual dan eksekutif tingkat atas pun sama saja. Karena malu, penderita diabetes dari golongan ini sering menghabiskan uangnya untuk berobat ke negara tetangga, seperti Singapura dan Malaysia. Gambaran yang sama pun terdapat pada sejawat dokter senior. Liku-liku seperti inilah yang mungkin digambarkan oleh D. Nathan sebagai epidemi pandemi abad 20-21 di dunia

Penyakit Tidak Menular.

Indonesia kini menghadapi dua beban pilar penyakit (double peak burden diseases), yakni penyakit menular dan infeksi yang kini telah menurun; dan muncul penyakit baru (reemerging disease), yaitu penyakit degeneratif atau penyakit tidak menular (PTM).

Dahulu, penyakit menular menjadi penyebab terbesar kematian di dunia. Tidak heran, penyakit-penyakit menular, seperti TBC, DBD, malaria, HIV/Aids, dan kolera menjadi teror yang mampu menebar ketakutan bagi semua orang. Namun, saat ini kondisinya berbeda. Sekarang ini, tidak hanya penyakit menular yang harus diwaspadai. Penyakit Tidak Menular pun perlu mendapatkan perhatian serius. Penyakit tidak menular kini tampil dengan membawa kengerian yang sama. Penyakit ini telah menjadi penyebab utama kematian secara global.

Data WHO menunjukkan bahwa penyakit tidak menular telah menyebabkan kematian sebanyak 36 juta jiwa dari total kematian 57 jiwa pada tahun 2008. Artinya, hampir dua pertiga dari total kematian pada tahun tersebut disebabkan oleh penyakit tidak menular.

Ingat, gaya hidup tidak sehat dan kurang gerak (olahraga) disertai mental batin tidak seimbang adalah penyebab petaka tersebut. Diperparah dengan rokok dan alkohol, akan makin mendekatkan seseorang pada risiko terkena PM, yang kemudian dapat menjelma menjadi DM2.

Nasihat pencerahan ini layak untuk disimak oleh siapa saja untuk menjauhkan diri dari ancaman berbagai penyakit tidak menular dan menggenggam kuat kesadaran betapa kesehatan adalah harta yang tak ternilai harganya; “Tidak ada gunanya banting tulang, menggebu-gebu mengejar uang, tetapi setelah terkumpul menumpuk di bank, uang tersebut ludes ketika umur 60 tahun, untuk berobat dan membayar dokter (mahal).

Salam Sehat Legowo .

www.tayuncare.com

Comments are closed.